• 25 Agu 2025
  • Dibaca 127x

Tegur Sapa dengan Peserta dan Panitia : Samuel Wattimena Hadiri Lomba Dayung Tradisional Rawa Pening


Suasana meriah menyelimuti tepian Rawa Pening, Dusun Sumurup, Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Minggu (24/8/2025). Ratusan warga tumpah ruah menyaksikan Lomba Dayung Tradisional Rawa Pening 2025 yang digelar Karang Taruna “Bina Remaja Bersatu”. Acara ini menjadi lebih istimewa dengan hadirnya Samuel Wattimena, tokoh nasional yang juga Anggota DPR RI komisi 7 yang datang sebagai tamu undangan.

Samuel tidak hanya hadir untuk menyaksikan jalannya lomba, tetapi juga berinteraksi hangat dengan peserta, panitia, dan masyarakat sekitar. Ia tampak beberapa kali berdiri dari kursinya, menyapa penonton, hingga memberikan semangat kepada tim peserta yang berlaga. Senyumnya yang ramah disambut antusias oleh warga yang hadir.

Kehadiran Samuel Wattimena didampingi oleh Dimas Herdy Utomo, Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, beserta jajaran timnya. Rombongan disambut langsung oleh panitia lomba dan perangkat desa sebelum menempati kursi tamu undangan di tribun utama.

 

Lomba Dayung Tradisional Rawa Pening 2025

Lomba ini merupakan kegiatan tahunan yang digelar Karang Taruna Dusun Sumurup “Bina Remaja Bersatu” sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan mengusung tema “Merayakan Warisan, Menyongsong Masa Depan”, lomba dayung tidak hanya diposisikan sebagai ajang olahraga tradisional, tetapi juga sebagai perayaan budaya yang sudah berlangsung sejak 1990-an. Tahun ini, lomba diikuti lebih dari 100 peserta dengan berbagai kategori. Jenis perlombaan yang diselenggarakan antara lain Sprint Dayung, Meniti Bambu, dan Parade Perahu Hias. Selain kompetisi, masyarakat juga dihibur dengan penampilan kesenian, doorprize, serta pameran UMKM lokal.

Hadirnya Samuel Wattimena dalam lomba ini menjadi sorotan tersendiri. Dikenal sebagai figur publik yang konsisten memperhatikan isu-isu sosial dan kebudayaan, Samuel menyampaikan apresiasi kepada panitia dan masyarakat yang menjaga kelestarian tradisi lokal.

Dalam kesempatan itu, Samuel menegaskan bahwa lomba dayung bukan sekadar pertandingan fisik, melainkan simbol kebersamaan dan semangat juang. Ia berpesan agar kegiatan ini terus dikembangkan sebagai bagian dari identitas budaya dan daya tarik wisata Kabupaten Semarang.

“Lomba dayung tradisional ini adalah warisan yang perlu dijaga. Ia bukan hanya tentang siapa yang paling cepat, tetapi bagaimana masyarakat bisa merasakan semangat kebersamaan, solidaritas, dan cinta terhadap budaya lokal, kegaitan yang dari, oleh, dan untuk masyrakat secara mandiri seperti kegiatan ini patut di apresiasi” ujar Samuel dalam sambutannya.

Samuel tampak akrab dengan masyarakat. Ia beberapa kali menyalami penonton, menyapa peserta, hingga berbincang langsung dengan panitia di sela-sela acara. Momen tersebut menegaskan kehadirannya tidak sebatas seremonial, melainkan benar-benar melibatkan diri dalam suasana kebersamaan.

 

Rawa Pening, Ruang terbuka bagi Masyarakat

Perlombaan berlangsung di Jembatan Kali Tuntang, Rawa Pening, Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang Lokasi ini dipilih bukan hanya karena aksesibilitasnya, tetapi juga karena nilai historis dan wisata yang dimiliki Rawa Pening. Bagi masyarakat setempat, Rawa Pening adalah sumber penghidupan sekaligus ruang rekreasi. Melalui lomba dayung, danau ini diperkenalkan lebih luas sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya dan olahraga air. Tidak heran jika ratusan warga, baik lokal maupun dari luar daerah, memadati area perlombaan sejak pagi.

Lomba digelar pada Minggu, 24 Agustus 2025, mulai pukul 08.00 WIB hingga sore hari. Rangkaian acara berlangsung padat, dimulai dengan pembukaan, babak penyisihan, hingga final dan parade perahu hias. Kehadiran Samuel Wattimena di sela puncak acara menjadi magnet tersendiri bagi warga yang berbondong-bondong mendekat untuk melihat lebih dekat.

Menurut panitia, tujuan utama lomba adalah melestarikan tradisi sekaligus memperkuat jiwa nasionalisme generasi muda. Ketua Panitia, Ginanjar Ari Ambon, menyebut bahwa lomba dayung menjadi momentum untuk mengingat semangat juang para pahlawan dalam bentuk kegiatan positif
Selain itu, lomba ini juga menjadi media untuk: Memupuk solidaritas antarwarga, Mempererat rasa persatuan, Mempromosikan Rawa Pening sebagai destinasi wisata, Mencari bibit atlet dayung potensial dari Kabupaten Semarang. Pesan ini sejalan dengan pandangan Samuel Wattimena yang menilai bahwa lomba tradisional adalah aset budaya dan harus dipertahankan di tengah arus modernisasi.

 

Jalannya Acara dan Interaksi

Acara dibuka dengan upacara sederhana yang diikuti panitia, peserta, dan tamu undangan. Suasana semakin meriah ketika peserta mulai menurunkan perahu ke air dan bersiap di garis start.

Samuel Wattimena mendapat kesempatan khusus untuk memberikan aba-aba pada salah satu pertandingan sprint dayung. Dengan semangat, ia mengibaskan bendera tanda dimulainya lomba. Sorak-sorai penonton pecah, menambah suasana hangat kebersamaan. Tak hanya itu, Samuel terlihat sering memberikan instruksi spontan kepada penonton agar memberi semangat kepada peserta. Sikapnya yang humoris membuat penonton terhibur, sementara peserta merasa dihargai atas jerih payah mereka.

Di sela perlombaan, Samuel juga berbincang dengan panitia mengenai tantangan yang dihadapi dalam menyelenggarakan acara ini. Ia mengapresiasi kerja keras Karang Taruna Bina Remaja Bersatu yang mampu menjaga konsistensi tradisi hingga puluhan tahun.

Dimas Herdy Utomo, Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, menambahkan bahwa acara seperti ini sangat mungkin diintegrasikan dengan sektor ekonomi kreatif. “Banyak peluang yang bisa digarap dari event budaya. Misalnya, pelaku ekonomi kreatif bisa hadir menjajakan karyanya, komunitas seni bisa tampil, dan generasi muda mendapat ruang untuk berkreasi,” ujarnya.

 

Dampak Sosial dan Harapan ke Depan

Kehadiran tokoh nasional seperti Samuel Wattimena memberi semangat baru bagi masyarakat Sumurup dan sekitarnya. Interaksi langsungnya dengan warga memberi kesan bahwa kegiatan lokal pun memiliki arti penting dalam pembangunan budaya bangsa. Panitia berharap dukungan dari pemerintah, swasta, maupun komunitas terus mengalir agar lomba dayung dapat berlangsung lebih besar dan berkesinambungan. Tahun depan, mereka menargetkan keterlibatan lebih banyak peserta dari luar daerah serta pengembangan promosi wisata berbasis tradisi.

Samuel pun menutup kunjungannya dengan sebuah pesan: “Tradisi ini harus dijaga, bukan hanya untuk kita yang hadir hari ini, tetapi juga untuk anak cucu kita di masa depan.”

Lomba Dayung Tradisional Rawa Pening 2025 bukan hanya panggung kompetisi, melainkan ruang pertemuan antara tradisi, kebersamaan, dan harapan. Kehadiran Samuel Wattimena sebagai tamu kehormatan menambah nilai simbolis bahwa tradisi lokal tetap relevan di era modern.

Dengan dukungan Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang dan antusiasme masyarakat, lomba dayung di Rawa Pening diproyeksikan menjadi agenda budaya sekaligus destinasi wisata unggulan. Tradisi ini bukan sekadar merayakan warisan, tetapi juga menyongsong masa depan dengan optimisme.

 

Ditulis dan Di Narasikan Oleh Admin Kanal Informasi Ekonomi Kreatif Kab. Semarang
25/08/2025

Bercengkerama Bersama