Narasi Babad Banyumas Dihadirkan dalam Sastra Rupa oleh 30 Perupa Lokal
Banyumas, Jawa Tengah - Narasi Babad Banyumas selama ini lebih banyak dikenal melalui tulisan, manuskrip, maupun kajian sejarah. Untuk memperluas cara pembacaan dan pemahamannya, sebanyak 30 perupa Banyumas menghadirkan kisah tersebut ke dalam medium visual melalui goresan kuas di atas kanvas.
Upaya tersebut terwujud dalam Pameran Sastra Rupa bertajuk “Babad Banyumas” yang menjadi bagian dari rangkaian acara Banyumas Aesthetic Soetedja, dan dibuka pada Rabu, 22 Oktober 2025, di Aula Hetero Space. Pameran ini berlangsung hingga 26 Oktober 2025.
Pameran menampilkan karya 30 pelukis Banyumas yang menafsirkan berbagai peristiwa penting dalam sejarah berdirinya Kabupaten Banyumas. Setiap karya menjadi interpretasi visual atas fragmen-fragmen cerita dalam Babad Banyumas, yang selama ini lebih dikenal dalam bentuk teks.
Pengarah kreatif pameran, Nasirun, menyampaikan bahwa gagasan menghadirkan sastra rupa bertema Babad Banyumas lahir dari proses panjang. Inspirasi tersebut muncul setelah ia menyaksikan pameran sastra rupa Babad Diponegoro pada 2019, lalu kembali mengamati gelaran serupa pada 2022 dan 2024. Dari pengalaman itulah muncul dorongan untuk menghadirkan konsep serupa di Banyumas.
Menurut Nasirun, tantangan utama pameran ini terletak pada kekayaan versi naskah Babad Banyumas. Jika Babad Diponegoro hanya memiliki sekitar empat versi, Babad Banyumas justru memiliki lebih dari seratus versi, sehingga para perupa dituntut untuk melakukan penafsiran yang cermat dan mendalam.
Seniman yang juga dikenal dengan nama Nasirun Poerwokartun itu menjelaskan, sejarah berdirinya Banyumas tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Pajajaran, dan Pajang. Kisah tersebut berawal dari Raden Baribin, putra Raja Majapahit yang diusir oleh kakaknya, Prabu Ardiwijaya. Raden Baribin kemudian mengembara ke barat, melintasi wilayah Bagelen hingga menetap di kawasan Kejawar, Pasirluhur, dalam wilayah kekuasaan Pajajaran.
Perjalanan sejarah itu berlanjut melalui putranya, Raden Katuhu, yang menetap di Wirasaba. Kepemimpinan kemudian diteruskan oleh menantunya, Jaka Kaiman, yang kelak mendirikan Kadipaten Banyumas. Nasirun menilai, tokoh-tokoh tersebut merupakan leluhur Banyumas yang penting untuk dikaji peran, karakter, serta nilai-nilai keluhuran yang mereka wariskan. Babad Banyumas, menurutnya, layak dijadikan literasi kebudayaan untuk menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap jati diri daerahnya.
Wakil Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB), Bambang Widodo, menyebutkan bahwa pameran ini merupakan bagian dari program kerja Komisi Seni Rupa DKKB. Ia menegaskan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang pamer karya seni, tetapi juga berfungsi sebagai media pembelajaran sejarah bagi masyarakat.
Melalui pameran sastra rupa ini, para pelukis Banyumas diberikan ruang untuk menafsirkan Babad Banyumas ke dalam bahasa visual, sekaligus menjadi sarana untuk mengenalkan kembali sejarah berdirinya Kabupaten Banyumas kepada publik, khususnya generasi muda.
Sementara itu, Dodit, salah satu pengurus DKKB, mengungkapkan bahwa pihaknya mengusulkan agar karya-karya lukisan bertema Babad Banyumas dapat dipajang di lingkungan Kantor Kecamatan Banyumas. Langkah tersebut diharapkan mampu menambah daya tarik kawasan kota lama Banyumas sebagai destinasi wisata sejarah berbasis seni rupa.
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, mengapresiasi inisiatif para perupa dan penyelenggara pameran yang mampu mengubah teks sejarah menjadi karya seni visual. Menurutnya, seni rupa memiliki kekuatan ekspresif yang mampu menyampaikan nilai-nilai sejarah secara lebih emosional dan membumi.
Ia menilai, melalui medium visual, sejarah tidak hanya dibaca, tetapi juga dapat dirasakan, sehingga mampu menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap daerahnya. Sadewo juga mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk memanfaatkan pameran ini sebagai sarana mengenal jati diri serta memperkuat kecintaan terhadap Banyumas.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa Banyumas memiliki warisan budaya yang sangat kaya. Namun, warisan tersebut berpotensi hilang jika tidak dirawat secara bersama-sama. Pameran Sastra Rupa “Babad Banyumas” dinilai menjadi momentum penting untuk menjaga sekaligus menghidupkan kembali budaya lokal melalui pendekatan kreatif dan kontekstual. ***





.jpeg)
Bercengkerama Bersama