Menari dengan Akar Tradisi : Kisah Ino Sanjaya, Seniman Tari Muda dari Ambarawa
Di balik gemulai gerak tubuh yang sarat makna, terdapat jejak panjang perjalanan seorang seniman yang tidak hanya menari untuk diri sendiri, tetapi juga untuk budaya, komunitas, dan masa depan. Dialah Ino Sanjaya, S.Sn., seniman tari muda asal Ambarawa, Kabupaten Semarang, lulusan Jurusan Seni Tari dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 2018. Di usianya yang masih muda, Ino telah menunjukkan bahwa seni tradisi bukanlah warisan masa lalu yang usang, melainkan fondasi yang kokoh untuk melangkah menuju masa depan yang lebih berwarna. Kecintaannya pada dunia tari bukan hadir tiba-tiba. Sejak kecil, Ino sudah terbiasa menyaksikan kesenian rakyat yang hidup di tengah masyarakat. Suasana semarak pertunjukan, tabuhan gamelan, dan ekspresi para penari menjadi magnet yang menyedot perhatiannya sejak dini. Dari taman kanak-kanak hingga SMA, ia sering ditunjuk untuk mengikuti lomba-lomba tari. Ketertarikannya kian mendalam ketika ia mulai aktif bergabung dengan berbagai sanggar tari. Dari panggung kecil di sekolah hingga pementasan lokal, panggilan jiwa untuk menari semakin tak terbendung. Namun, bukan hanya lingkungan yang membentuknya. Sosok maestro tari Indonesia, Didik Nini Thowok, menjadi inspirasi tersendiri bagi Ino. Keberanian sang maestro dalam mengeksplorasi dan mengekspresikan diri melalui tari menjadi cerminan semangat yang ingin ia tanamkan dalam setiap geraknya.
Merangkai Karya, Menjaga Warisan
Dalam proses kreatifnya, Ino tak hanya menjadi peniru gerak tradisi. Ia menyerap, mengolah, dan mencipta. Genre yang ia tekuni berakar kuat pada gaya tari tradisi Surakarta dan Yogyakarta. Namun demikian, ia tidak berhenti di situ. Baginya, tradisi adalah awal, bukan batas. Ia kerap memadukan unsur-unsur tradisional dengan gerakan yang ia kembangkan sendiri, menciptakan bentuk ekspresi baru yang tetap menghormati akar budayanya. Setiap karya yang ia ciptakan tak lepas dari nilai-nilai budaya lokal. Bagi Ino, tari adalah media untuk mengangkat dan mengenalkan kearifan lokal yang mungkin belum banyak diketahui orang luar. Inspirasi bisa datang dari mana saja: tempat wisata seperti Rawa Pening, kuliner khas seperti Srabi Ngampin, atau cerita-cerita yang hidup di tengah masyarakat. Ia percaya bahwa dengan mengangkat budaya lokal sebagai ide gagasan, karya seni tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi media edukasi dan pelestarian. Menjadi seniman muda yang setia pada tradisi tentu tidak mudah. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjadikan tari tradisi tetap relevan dan menarik di tengah arus modernisasi. Menurut Ino, seni tari tradisional harus mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Ia ingin tari tetap bisa dinikmati oleh khalayak luas, terutama generasi muda, yang kini hidup dalam dunia yang serba digital dan cepat.
Namun, Ino tidak sendirian. Keluarga dan lingkungan sekitarnya menjadi support system yang kokoh. Dukungan penuh dari keluarga, apalagi dengan latar belakang beberapa saudara yang juga berkecimpung di dunia seni, membuatnya merasa lebih percaya diri dan konsisten dalam menapaki jalannya sebagai seniman. "saya bersyukur di besarkan didalam keluarga yang sangat mencintai seni dan hidup dari seni", ujarnya.
.png)
Dokumentasi KEK : Ino Sanjaya dengan Make Up sebelum Pentas
Menjadikan Tari sebagai Jalan Hidup
Ino tidak hanya menari untuk berkarya, tapi juga menjadikannya sebagai sumber penghidupan. Ia adalah seorang koreografer dan penari profesional, serta mendirikan ruang belajar seni tari yang dikenal dengan nama Sanggar Tari Kemrincing di Ambarawa. Sanggar ini tak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi pelatih-pelatih tari lainnya untuk berbagi ilmu dan mendapatkan penghasilan. Dengan model bisnis jasa, ia membuka peluang bagi seniman tari untuk menghidupi diri lewat karya. Ia menyadari pentingnya menjembatani antara seni dan ekonomi kreatif, agar para pelaku seni tidak hanya bergantung pada panggung seremonial, tapi juga mampu membangun ekosistem yang berkelanjutan.
Ino pun aktif memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan identitas dirinya dan sanggar yang ia bangun. Dengan kehadiran di platform digital, karya-karyanya menjangkau audiens yang lebih luas, dan membuka peluang kolaborasi serta partisipasi dari masyarakat yang lebih beragam.
Kolaborasi sebagai Nafas Berkesenian
Bagi Ino, seni tidak seharusnya berjalan sendiri. Kolaborasi lintas disiplin adalah bagian penting dari pertumbuhan seorang seniman. Ia kerap berkolaborasi dengan seniman lain, tidak hanya dari bidang tari, tapi juga dari seni patung, seni lukis, bahkan seniman modern. Setiap kolaborasi menjadi ruang eksperimen untuk menghasilkan karya-karya yang segar dan berdimensi luas. Lebih dari itu, Ino meyakini bahwa komunitas adalah elemen vital dalam perjalanan karier seniman muda. Komunitas menjadi ruang belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama. Melalui komunitas, seniman bisa menjaring lebih banyak ide, dukungan, bahkan peluang. Komunitas pula yang memperkuat jalinan antara seniman dengan publik, serta antara seni dengan realitas sosial. Sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif di Kabupaten Semarang, Ino memandang dunia tari memiliki peran yang signifikan. Sub Sektor Pertunjukan dalam hal ini Seni tari, bukan sekadar kegiatan budaya, tetapi bagian dari rantai ekonomi yang menciptakan peluang kerja, membuka usaha, hingga membangun citra daerah. Dengan adanya perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, ia berharap seni tari terus mendapat ruang untuk berkembang, baik dalam bentuk festival, pelatihan, maupun program apresiasi seni yang berkelanjutan.
Melalui sanggarnya, Ino tak hanya mencetak penari, tetapi juga membentuk wajah baru kebudayaan lokal yang adaptif dan inspiratif. Ia berharap ke depan, seni tari di Kabupaten Semarang bisa berdiri sejajar dengan kabupaten atau kota lain yang lebih dahulu mengembangkan potensi seninya.
.jpg)
Dokumentasi KEK : Sanggar Kemrincing Bersama Dinas Pariwisata Berpose bersama setelah Tampil di TMII Mei 2025
Mimpi yang Menari Menembus Batas
Bermimpi tak pernah dilarang, dan bagi Ino, mimpi itu menari menembus batas ruang dan waktu. Jika kelak ada kesempatan tampil atau belajar di luar negeri, ia ingin membawa budaya daerahnya ke panggung dunia. Ia ingin membuktikan bahwa melalui tari, anak-anak daerah seperti dirinya bisa menjadi duta budaya, memperkenalkan Indonesia melalui gerak, ekspresi, dan cerita yang dikemas dalam karya seni. Lebih dari itu, ia ingin membawa pulang pengalaman dan pengetahuan untuk dibagikan kepada komunitasnya. Ia ingin menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas seniman lokal, agar ekosistem seni di daerahnya bisa berkembang lebih profesional, mandiri, dan berdampak luas. Kepada generasi muda yang tertarik untuk menekuni dunia tari, Ino berpesan: “Jangan ragu.” Menjadi penari bukan berarti hanya menguasai gerak, tetapi juga memiliki keyakinan, kemauan, dan konsistensi. Dunia seni adalah dunia yang menantang, namun juga membahagiakan. Siapa pun bisa menjadi penari profesional jika memiliki komitmen untuk belajar dan berkembang. Ia ingin generasi muda menyadari bahwa tari bukan hanya warisan budaya, tetapi juga potensi ekonomi, media diplomasi, ruang edukasi, dan sarana pembangunan karakter. Di tengah derasnya arus digital dan tren global, seni tari bisa menjadi jangkar yang mengikat kita pada identitas dan kekuatan lokal.
Ino Sanjaya bukan hanya penari, ia adalah pewaris dan pembaharu. Ia berdiri di antara masa lalu dan masa depan, menghubungkan keduanya melalui gerak yang tulus dan karya yang menginspirasi. Dari Ambarawa untuk Kabupaten Semarang, dan dari Kabupaten Semarang untuk Indonesia, dan dari Indonesia untuk dunia.
Semoga kisah Ino menginspirasi lebih banyak pemuda untuk berani mengejar mimpi, menari dengan semangat, dan membangun dunia kreatif yang inklusif dan bermakna.





.jpeg)
Bercengkerama Bersama