BUMDes Kabupaten Semarang: (menjadi) Energi Baru Penggerak Ekonomi Kreatif Desa
Peningkatan kapasitas Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Kabupaten Semarang kembali mendapat sorotan. Melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) yang diselenggarakan Dispermasdes bersama Komite Ekonomi Kreatif (KEK), ratusan pengelola BUMDes diharapkan dapat pulang dengan bekal inspirasi, pemahaman regulasi, hingga strategi tata kelola yang lebih kuat. Acara ini menjadi momentum penting bagaimana BUMDes diposisikan sebagai motor penggerak ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
Acara berlangsung marathon 4 hari yang dibuka langsung oleh Drs. Budi Raharjo, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Semarang. Ia menekankan bahwa BUMDes tidak boleh hanya dipandang sebagai lembaga ekonomi biasa, melainkan motor penggerak ekonomi desa yang mampu menciptakan lapangan kerja, menekan angka kemiskinan, sekaligus memperkuat kemandirian desa.
Satria Ramadhani, Sekretaris Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, menambahkan warna motivasi dalam sesi pembekalan. Ia menguraikan delapan ciri produk kreatif—orisinal, bernilai tambah, bermanfaat, hingga mampu bersaing di pasar. Pesan yang diharapkan adalah bahwa: setiap ide usaha sebaiknya lahir dari persoalan nyata di masyarakat. “Dari masalah justru kita bisa menemukan solusi yang menjadi sumber penghasilan,” ujarnya.
Budi Prasetyawan, Anggota Komite Ekonimi Kreatif Divisi SDM, memperluas perspektif dengan mengingatkan bahwa potensi desa adalah aset desa. Hasil pertanian, wisata, hingga UMKM kreatif lokal yang dapat menjadi sumber ekonomi kreatif jika dikelola secara profesional lewat BUMDes.
.jpeg)
Dari Regulasi hingga Tata Kelola
Selain motivasi, peserta juga mendapat pemahaman hukum dari perwakilan Komisi A DPRD Kabupaten Semarang. Pesan pentingnya: inovasi BUMDes harus berjalan seiring aturan hukum agar usaha desa tidak hanya kreatif, tapi juga berkelanjutan. Sri Retno Widayati, SE., MM., Kepala Bidang Pemerintahan Desa Dispermasdes, memperkuat sesi dengan penekanan pada tata kelola. Menurutnya, laporan keuangan yang rapi, administrasi yang tertib, serta akuntabilitas transparan adalah pondasi yang membuat BUMDes dipercaya oleh warga maupun mitra eksternal.
Suasana Bimtek terasa cair: ada inspirasi, aturan, dan semangat baru. Kolaborasi antara KEK, DPRD, dan Dispermasdes memberi gambaran bahwa penguatan BUMDes bukan hanya urusan bisnis, tetapi juga tata kelola dan keberlanjutan.
Roadshow 208 Direktur BUMDes
Momentum ini juga sejalan dengan roadshow yang melibatkan 208 direktur BUMDes se-Kabupaten Semarang. Kegiatan empat hari dibagi ke dalam empat zona (Tengaran, Tuntang, Ambarawa, dan Aula Dispermasdes). Fokus kegiatan ini adalah memotivasi pengelola agar lebih jeli melihat potensi lokal.
Beberapa contoh konkret potensi desa yang dibahas antara lain:
1. Sentra kerupuk: mengonsolidasikan produsen individu menjadi unit usaha kolektif dengan pemasaran terpadu.
2. Industri arang kayu kelengkeng: produksi manual warga yang bisa stabil jika masuk ke manajemen BUMDes.
3. Kontes durian lokal: bukan sekadar panen, tapi strategi branding desa sekaligus menarik wisatawan.
4. Wisata sejarah: bangunan kolonial yang dianggap biasa ternyata potensial dijual sebagai paket wisata.
Strategi eksekusinya meliputi promosi digital lewat media sosial, pelibatan pemuda, penguatan narasi dan pendalaman ekosistem dan integrasi potensi desa menjadi paket wisata terpadu (kuliner, budaya, produk, edukasi). KEK menegaskan, pengembangan BUMDes harus berpijak pada tiga pondasi: ekonomi, sosial, dan lingkungan.
.jpeg)
Doc KEK : Pembekalan oleh Budi Prasetyawan di Aula Kecamatan Ambarawa
Kolaborasi Tiga Pilar
Namun, semangat pengembangan saja tidak cukup. Dalam sesi lain, ditekankan pentingnya tiga pilar: kepala desa, BUMDes, dan perangkat desa. Kepala desa punya peran politis memberi dukungan penuh. BUMDes bertugas merancang dan menjalankan strategi bisnis. Pemdes membantu aspek administrasi dan regulasi. Budi Prasetyawan mengingatkan bahwa pertemuan yang hanya melibatkan satu pilar—misalnya direktur BUMDes—tidak akan maksimal. Kolaborasi lintas pilar menjadi syarat mutlak agar ide dan semangat bisa diwujudkan di lapangan.
Contoh nyata kolaborasi ini adalah pengelolaan sampah. Sampah organik bisa diolah menjadi pupuk, lalu dikemas sebagai wisata edukasi. Hasilnya bukan hanya keuntungan finansial, tapi juga kesadaran lingkungan yang tumbuh di masyarakat.
Upaya penguatan BUMDes di Kabupaten Semarang juga sejalan dengan program Kecamatan Berdaya yang digagas Pemprov Jawa Tengah
Program ini menempatkan kecamatan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, kreativitas, dan perlindungan kelompok rentan seperti yang disampaikan Gubernur Jawa tengah dalam Audiensi Afustus lalu yakni di dalamnya ada empat fokus utama:
1. Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak.
2. Perlindungan lansia dan disabilitas.
3. Program Taruna Karya Mandiri (Zilenial) untuk generasi muda kreatif.
4. Ekosistem Sport Center.
Keterkaitan dengan BUMDes jelas: Taruna Karya Mandiri, misalnya, mendorong lahirnya wirausaha muda desa. BUMDes bisa menjadi fasilitator dalam menyediakan ruang, akses pasar, hingga pendampingan usaha. Dengan begitu, potensi generasi muda desa bisa diarahkan ke aktivitas produktif yang menopang ekonomi lokal.
Ekonomi Kreatif Sebagai Jalan
BUMDes, ekonomi kreatif, dan program pemberdayaan seperti Kecamatan Berdaya pada dasarnya memiliki tujuan yang sama: membangun desa mandiri yang inklusif dan berkelanjutan. Ekonomi kreatif bukan hanya tentang produk unik, melainkan cara pandang baru terhadap potensi lokal. Di Kabupaten Semarang, potensi lokal sangat beragam: dari kuliner, kerajinan, hingga wisata alam dan sejarah. BUMDes berperan sebagai katalisator yang menghubungkan potensi tersebut dengan pasar, memperkuat kapasitas warga, sekaligus menjaga nilai budaya dan lingkungan. Peningkatan kapasitas pengelola BUMDes bukanlah kegiatan sekali jadi. Ia adalah proses berkelanjutan yang membutuhkan konsistensi. Bimtek, roadshow, hingga program kolaboratif menjadi bagian dari upaya besar menciptakan desa-desa tangguh.
Tantangan tentu ada: Seperti keterbatasan modal, SDM, hingga penetrasi pasar. Namun dengan semangat kolaborasi Hexahelix—melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, bisnis, dan komunitas—BUMDes di Kabupaten Semarang memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi motor ekonomi kreatif yang diakui secara nasional.
Ke depan, BUMDes diharapkan bukan sekadar pengelola unit usaha, melainkan pionir pembangunan desa. Mereka akan menjadi contoh bahwa kemandirian bisa tumbuh dari desa, kreativitas bisa lahir dari lokalitas, dan kolaborasi bisa melahirkan kesejahteraan bersama.
Ditulis dan Di Narasikan Oleh Admin Kanal Informasi Ekonomi Kreatif Kab. Semarang
13/09/2025





.jpeg)
Bercengkerama Bersama